Skip to Content

Perasaan Tidak Bisa Diramalkan

Ada pertanyaan lain untuk kita renungkan. Kita tahu bahwa lama-kelamaan kita merasa bosan terhadap barang yang dibeli. Jadi, bukankah seharusnya ada momen saat kita sadar bahwa membeli barang baru itu tidak ada gunanya? mengapa kita tidak pernah lelah mengikuti siklus ini? Mengapa kita terus menumpuk barang?

Menurut Fumio Sasaki, jawaban terhadap pertanyaan ini adalah karena kita menggunakan masa kini untuk meramalkan emosi di masa depan. Manusia mungkin satu-satunya makhluk hidup yang mampu membayangkan masa depan, namun prediksi kita jauh dari akurat.

siapa diantara kita yang pernah pergi ke supermarket dalam kedaan lapar, lalu akhirnya berbelanja lebih banyak dari yang seharusnya? Adakah yang pernah duduk di restoran, merasa kelaparan, dan memesan terlalu banyak? Kedaan kita saat itu, yaitu lapar, membuat kita salah memperkirakan emosi setelah mendapat asupan makanan. Bahkan, kita sebenarnya tidak mampu memperkirakan akan seberapa lapar kita tiga puluh menit dari sekarang.

Sebagian dari kita pernah mengalami pengar parah pada suatu ketika, dan saya yakin banyak yang berikrar dalam keadaan pusing hebat untuk berhenti minum berlebihan.

Di hari yang panas dan lembap, kita pasti sulit membayangkan nikmatnya duduk di depan perapian yang menyala. sebaliknya, sulit membayangkan nyamannya berada di tengah ruangan berpendingin saat cuaca beku di tengah musim dingin. pada intinya kita cenderung menilai masa depan berdasarkan masa kini.

comments powered by Disqus